Pemimpin Pertanian

jusman, 08 Dec 2019, PDF
Share w.App T.Me
INDONESIASATU.CO.ID:

LUWU UTARA - PILKADA serentak kembali diselenggarakan tahun 2020 mendatang. 

270 daerah akan mengikuti pilkada serentak gelombang keempat ini. 

Rinciannya 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. 

Sebagai negara agraris penduduk Indonesia sebagian besar manggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Termasuk di 270 daerah yang bakal melangsungkan pilkada.

Sayangnya, keadaan pertanian dan petani secara umum di Indonesia belum bisa dikatakan baik.

Sederet persoalan klasik tak kunjung teratasi. 

Contohnya harga komoditi pertanian yang tidak stabil.

Olehnya itu, diharapkan kepala daerah atau pemimpin yang nantinya terpilih pada saat pilkada menpunyai komitmen memajukan sektor pertanian. 

Karena masa depan pertanian daerah sangat bergantung pada kepala daerahnya sendiri.

Kalau pemimpin tidak peduli dengan pertanian, maka petani akan makin jauh dari kesejahteraan.

Kartini Kartono (1994) menyebut pemimpin sebagai seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya disatu bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.

Pranadji (2008) menyatakan, besarnya pengaruh pemimpin yang punya visi dan kredibilitas tinggi di mata masyarakat mengandung tiga aspek.

Yaitu kharisma dan integritas sebagai pemimpin serta kemampuan teknis selaku manajer.

Bagi masyarakat berperadaban agraris, ketiga aspek itu harus dimiliki oleh seorang pemimpin. 

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar, Dr Syamsul Rahman (2018) mengatakan bahwa gambaran umum petani di Indonesia adalah petani kecil yang sederhana.

Mereka juga miskin modal, lahan sempit, kurang terdidik, cenderung diam, mengeluh, dan tak berdaya. 

Situasi ketidakberdayaan itu, menurut Soetomo (1997) bersumber dari persoalan struktural.

Dalam sistem sosial misalnya, petani cenderung menjadi elemen yang dibuat bergantung tak berdaya sepenuhnya oleh kekuatan luar.

Sementara esensi kemerdekaan sesungguhnya adalah terbebas dari kemiskinan, mengangkat harkat dan martabat, dan sebagai instrumen menuju kesejahteraan.

Tak terkecuali derajat dan kesejahteraan petani.

Umumnya mereka tinggal di pedesaan dengan mata pencaharian terbesar adalah bertani dan merupakan pelaku utama pembangunan pertanian.

Namun, sampai sekarang ini posisi petani masih lemah terkucilkan.

Padahal, petani katanya 'pahlawan' swasembada, ketahanan, dan kedaulatan pangan.

Bisa dibayangkan seandainya tidak ada petani yang bekerja keras, bekerja sabar, dan bekerja ikhlas.

Siapa yang mau bersusah-payah menanam, menyemai, merawat, dan memanen tanaman.

Jika tidak ada petani, bisa jadi kita mengalami krisis pangan, bahkan tragedi kelaparan melanda. 

Lalu mengapa kehidupan petani yang bekerja tanpa kenal lelah semakin hari semakin memprihatinkan.

Karena paradigma terhadap pertanian hanya sebatas budidaya komoditi primer. Menurut Syamsul Rahman.

Arah kebijakan dan program pembangunan pertanian nasional juga susah dicerna di tingkat bawah.

Belum menyentuh harkat, martabat, dan kesejahteraan petani. 

Sejauh ini, pembangunan pertanian nasional hanya sebatas melihat pertanian sebagai komoditi. 

Bukan melihat petani sebagai motor penggerak.

Petani hanya menjadi obyek dan bukan subyek pembangunan. 

Alhasil, nasib, harkat, dan martabat petani hanya diukur dari harga komoditi yang dihasilkan. 

Celakanya komoditi yang dihasilkan selalu dihargai rendah.

 

Makanya nasib dan kehidupan mereka terus terpuruk. 

Persoalan ini harus dijawab bersama, dengan pemimpin sebagai motor penggerak utama demi meningkatnya taraf hidup petani.

Ayo. Beri amanah pemimpin yang komitmen majukan pertanian.(*)

Oleh: Chalik Mawardi

(Mahasiswa Pascasarjana Agribisnis UIM Makassar)

PT. Jurnalis Indonesia Satu

Kantor Redaksi: JAKARTA - Jl. Terusan I Gusti Ngurah Rai, Ruko Warna Warni No.7 Pondok Kopi Jakarta Timur 13460

Kantor Redaksi: CIPUTAT - Jl. Ibnu Khaldun I No 2 RT 001 RW 006 Kel Pisangan Kec Ciputat Timur (Depan Kampus UIN Jakarta)

+62 (021) 221.06.700

(+62821) 2381 3986

jurnalisindonesiasatu@gmail.com

Redaksi. Pedoman Siber.
Kode Perilaku.

Mitra Kami
Subscribe situs kami
Media Group IndonesiaSatu